DON

Breaking

Wednesday, 11 July 2018

7/11/2018

Fatur Merasa Tertipu di Acara Rembuk Nasional Aktivis 98

Fatur, seperti banyak mahasiswa tingkat pertama pada umumnya, masih menggebu-gebu untuk tahu apa pun yang terkait dengan dunia aktivisme. Dia membaca buku harian Soe Hok Gie, membaca literatur-literatur yang terkait gerakan mahasiswa, ikut-ikutan diskusi yang kadang berujung debat kusir, dan sebagainya.

Maka ketika ada ajakan untuk ikut acara dengan embel-embel nama "aktivis 98", ia tidak butuh waktu lama untuk mengiyakan. Ajakan datang dari teman seangkatannya di salah satu kampus swasta di Jakarta. Pada 19 Juni, belum genap seminggu setelah lebaran, kawan itu mengontaknya, meski acara akan diselenggarakan pada 7 Juli.

"Akhirnya bilang mau ikut karena tertarik. Juga merasa enggak enak karena di-chatterus [selama] satu bulan itu," katanya kepada saya di bilangan Tebet, Jakarta Selatan, malam tadi (9/7/2018).

Apa yang Fatur tahu sampai detik ketika bilang setuju adalah: acara itu bertajuk Rembuk Nasional Aktivis 98, bakal dihadiri mereka yang sempat ikut gelombang demonstrasi menggulingkan Soeharto, bakal berlangsung di Monumen Nasional dan membicarakan apa yang disebut dengan "masalah kebangsaan."

Sehari sebelum acara, Fatur kembali dikontak kawannya itu. Informasi yang disampaikan: acara tetap berlangsung, berkumpul di kampus terlebih dulu untuk bersama-sama ke lokasi, tapi tidak lagi di Monas melainkan JIExpo Kemayoran.

"Ok. Siap," tanpa ragu Fatur membalasnya.

Pukul sembilan kurang Fatur sudah ada di kampus bersama temannya itu, plus 20 orang lain. Hanya butuh waktu beberapa menit sampai ia menemukan keanehan pertama. Alih-alih memakai jaket almamater seperti demonstrasi-demonstrasi pada umumnya, kawannya itu lekas membagikan kaos hitam dengan logo "98", lengkap dengan tulisan berukuran lebih kecil: "20 Tahun Reformasi."

"Kenapa pakai kaos? Kok enggak pakai [jaket] almamater?"

"Kita kompak, biar sama."

Jawaban itu membuat Fatur tak lagi menginterogasi kawannya. Ia lebih memilih diam, meski masih bingung dari mana kaos itu berasal atau siapa yang mengeluarkan uang buat membikinnya.

Keanehan kedua terjadi di bus kota, alat transportasi yang dipakai untuk sampai ke lokasi. Ada beberapa kejanggalan sekaligus. Pertama, tidak seperti demo pada umumnya, Fatur tak dimintai iuran buat menyewa bus. "Gratis," kata kawannya itu. Keanehan kedua adalah pada kaca depan bus tertempel kertas A4 bertuliskan "Rombongan Tebet", seperti rombongan jamaah haji.

Keanehan ketiga ketika kawannya itu memberikan selembar uang merah Rp100 ribu. Tanpa amplop, telanjang seperti seseorang membayar utang makan siang kepada kawan kantornya.

"Ini uang apa?

"Buat beli rokok di sana."

"Dari siapa?"

"Ada dari senior kita."

"Serius nih?"

Fatur akhirnya menerima. Tidak jarang senior-seniornya membantu para junior buat acara kampus. Hal itu yang membuatnya memutuskan buat menerima uang.

Sampai di JIExpo, keadaan sudah ramai betul. Panitia mengklaim peserta mencapai 60 ribu. Massa sudah menyemut karena memang "Rombongan Tebet" yang satu ini telat. Kejanggalan semakin menjadi. Di sana terparkir mobil bertempelkan muka-muka caleg dari PDI Perjuangan. Ada pula mobil dengan stiker Posko Perjuangan Rakyat (pospera), kelompok relawan pendukung Jokowi.

Infografik CI Dukungan Aktivis 98 untuk Jokowi


Fatur baru sadar betul bahwa ia tidak sedang mengikuti acara kumpul aktivis 98. Ia sedang mengikuti acara deklarasi dukungan untuk Joko Widodo dalam pemilu tahun depan. Wahab Tolehu, juru bicara Rembuk Nasional Aktivis 98 mengatakan kalau mereka "siap mendukung Jokowi."

Uang Rp100 ribu dikembalikan ke kawannya itu. Dengan nada tinggi, Fatur menghardik: "Lu nipu gua, ya? Gua enggak bego pospera itu apa."

Kawannya hanya diam, tak menanggapi.

Fatur memutuskan buat tak berlama-lama di sana. Dia muak. Merasa ditipu kawannya itu. Dia tidak mendukung Joko Widodo, tidak pula simpati pada Prabowo Subianto. Baginya dua-duanya sama saja, juga politisi-politisi lain yang namanya berseliweran menghiasi jagat media massa sebagai calon presiden tahun depan.

Ketika berupaya mencari pintu keluar, Jokowi datang dengan pengawalan ketat paspampres berbaju sipil. Massa mengelu-elukan Jokowi. Teriakan "dua periode" terdengar lamat-lamat.

Fatur yang ketika itu berdiri tak jauh dari Jokowi bilang, meski tak yakin pula didengar:

"Pak, kapan datang ke Kamisan?"

Klarifikasi Panitia


Wahab Tolehu, juru bicara Rembuk Nasional Aktivis 98, mengatakan rasa tertipu orang seperti Fatur karena ia tidak "mengikuti dinamika forum dari awal."

"Kalau ada yang tidak tahu, mungkin dia bukan peserta rembuk," katanya kepada Tirto.

Ia menjelaskan bahwa awalnya rembuk tidak dimaksudkan untuk mendukung Jokowi. Namun dalam perjalanannya, usulan ini diterima semua pihak.

"Itu [deklarasi untuk Jokowi] dinamika dalam forum dan tidak by design. Dan saya tidak terkejut karena Jokowi representasi 98," katanya.

(tirto.id - Politik

Tuesday, 10 July 2018

7/10/2018

Mana Yang Cocok, Prabowo-Gatot, Gatot-Anies Atau Anies-AHY?

Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA membuat survei simulasi untuk tiga nama yang disebut-sebut sebagai capres lawan kuat incumbent Joko Widodo.

Tiga nama itu adalah Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto, mantan Panglima TNI Gatot Nurmantyo dan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan. Masing-masing dipasangkan dengan beberapa nama yang selama ini masuk bursa capres maupun cawapres.

Jika Prabowo Subianto sebagai capres, pasangan yang paling ideal untuknya dalam pertandingan melawan Jokowi adalah Gatot Nurmanyto. Pasangan ini meraih elektabilitas 35,6 persen. 

Selanjutnya Prabowo-Anies Baswedan (19,6 persen), Prabowo-Agus Harimurti Yudhoyono alias AHY (12,3 persen), dan Prabowo-Ahmad Heryawan alias Aher (10,2 persen). Kalau Prabowo dengan tokoh-tokoh lain hanya meraih 12,4 persen. Sedangkan yang menjawab tidak tahu dan tidak menjawab berjumlah 9,9 persen dari seluruh responden. 

Bila Gatot Nurmantyo sebagai capres, pasangan yang paling bagus dalam laga melawan Jokowi adalah Anies Baswedan (31,8 persen).

Di bawahnya, Gatot-AHY (21,5 persen) dan Gatot-Aher (13,3 persen). Kalau Gatot dipasangkan dengan tokoh lain meraih 18,7 persen. Sedangkan yang menjawab tidak tahu dan tidak menjawab berjumlah 14,7 persen.

Terakhir, jika Anies Baswedan menjadi capres lawan Jokowi, maka pasangan yang paling kuat untuknya adalah AHY dengan elektabilitas 33,4 persen. 

Selanjutnya disusul Anies-Aher (27,4 persen) dan Anies-Muhaimin Iskandar atau Cak Imin (23,4 persen). Sedangkan jika Anies dipasangan dengan tokoh lain mendapat 6,8 persen. Sedangkan yang tidak menjawab atau tidak tahu hanya 9,0 persen.

LSI Denny JA mengumpulkan data pada 28 Juni-5 Juli 2018. Survei menggunakan metode multistage random sampling dengan jumlah responden 1200 orang. 

Wawancara dilakukan secara tetap muka, responden menggunakan kuesioner, dan margin of error kurang lebih 2,9 persen.
7/10/2018

KPK Ikut Membawa Kadispora Aceh Darmansah, Usai Geledah Kantor Dispora

Tim penyidik KPK keluar dari Kantor Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Aceh setelah melakukan penggeledahan sekitar enam jam. Saat keluar, penyidik ikut membawa Kadispora Aceh, Darmansah.
Penyidik KPK keluar dari kantor Dispora Aceh sekitar pukul 17.25 WIB, Selasa (10/7/2018). Ada lima unit mobil yang keluar. Empat mobil di antaranya ditumpangi penyidik dan satu mobil ditumpangi Kadispora Darmansah.
Saat keluar, penyidik juga membawa dua unit koper dan satu kardus. Penyidik sudah mulai menggeledah Kantor Dispora Aceh sejak siang tadi sekitar pukul 11.00 WIB. Sementara Kadispora Darmansah keluar di belakang dan langsung masuk ke dalam mobil.
Di dalam mobil berplat BL 519 BS yang ditumpangi Darmansah, juga ada personel Brimob bersenjata lengkap. Darmansah terlihat mengenakan seragam PNS dan jaket hitam.
Belum diketahui Darmansah dibawa ke mana. Jubir KPK Febri Diansyah belum menjawab pesan WhatsApp,
KPK juga membawa dua koper masing-masing berwarna merah dan biru usai menggeledah kantor Dinas Pemuda dan Olahraga Provinsi Aceh sejak siang tadi, Selasa (10/7/2018),
Sebelumnya, Febri mengatakan, tim Penyidik KPK hari ini meneruskan penelusuran bukti-bukti di kasus dugaan suap terkait DOKA Aceh. Penggeledahan dilakukan di Dinas PUPR dan Dispora Aceh.
“Perkembangan lebih lanjut akan diinformasikan kembali,” kata Juru Bicara KPK Febri Diansyah dalam keterangan kepada wartawan, Selasa (10/7/2018).
“Dalam kasus ini, dari dokumen-dokumen dan catatan-catatan proyek yang kami dapatkan, semakin menguatkan konstruksi pembuktian kasus ini,” jelas Febri. (detikcom)

Monday, 9 July 2018

7/09/2018

Adakah, Keterlibatan Nova Iriansya Dalam Kasus OTT KPK Irwandi Yusuf??

Sejumlah massa yang mengatas namakan dirinya sebagai Koalisi Masyarakat Aceh Bersatu (KMAB) menggelar aksi damai di depan Masjid Raya Baiturrahman (MRB) Banda Aceh, Senin, 9 Juli 2018.
Dalam orasi tersebut, massa menuntut agar Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mengembalikan Gubernur Aceh, Irwandi Yusuf ke Aceh yang saat ini sudah ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus dugaan suap Dana Otonomi Khusus Aceh (DOKA) 2018 dan bahkan Irwandi saat ini sudah ditahan.
Sementara itu, Fahmi Nuzula selaku Koordinator aksi dalam wawancara dengan sejumlah awak media menyebutkan, KPK RI harus segera melepaskan Irwandi Yusuf yang telah ditahan dan ditetapkan sebagai tersangka.
“Kami menuntut Irwandi Yusuf dibebaskan tanpa syarat, batas waktu yang kami berikan 3 hari,” pungkasnya.
Menurut Fami, massa menilai Irwandi tidak bersalah, saat dijemput oleh tim penyidik KPK ke Pendopo Gubernur tidak ditemukan uang sepeser pun ditangan Irwandi, pungkasnya.
“Ada pihak yang bermain dalam kasus ini, pemerintah harus berhati-hati,” ujar Fahmi.
Disamping itu, Fahmi juga menyebutkan, pihaknya mengira adanya keterlibatan Wakil Gubernur Aceh Nova Iriansyah dalam kasus penangkapan Irwandi beberapa waktu lalu, tambahnya.
“Kami meyangka, kami mengira termasuk Nova Iriansyah bermain, saya akan bertemu Nova untuk memper tanggungjawabkan kata-katanya setahun yang lalu kepada saya ,” ungkap Fahmi tanpa menyebutkan kata-kata yang dimaksud itu.
Koorditor aksi tersebut juga mengancam, jika dalam tiga hari kedepan, pihak KPK tidak melepaskan Irwandi, massa akan kembali dan akan melumpuhkan istansi pemerintah,katanya saat wawancara.
“Kami akan lumpuhkan  instansi pemerintah,” tutup Fahmi.
Hingga berita ini diwartakan, pihak media ini belum memperoleh konfirmasi lebih lanjut dari Nova Iriansyah terkait adanya keterlibatan dirinya dalam kasus penangkapan Irwandi, Nova saat ini dikabarkan sedang bertemu dengan menteri dalam negeri di Jakarta dalam kapasitasnya sebagai Plt Gubernur Aceh.

Plt Gubernur Aceh Nova Iriansyah membatah pernyataan Koordinator Aksi Koalisi Masyarakat Aceh Bersatu (KMAB) Fahmi Nuzula yang mengaitkan dirinya  dengan penangkapan Gubernur Aceh Irwandi Yusuf beberapa waktu lalu.
Hal tersebut disampaikan Plt Gubernur Nova, melalui Juru Bicara Pemerintah Aceh Wiratmadinata dan Saifullah Abdulgani, sesaat setelah menerima Penugasannya sebagai Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur Aceh dari Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo di Jakarta, Senin 9 Juli 2018.

Nova Iriansyah Membantah Pernyataan Fahmi Nuzul
Plt Gubenur Nova melihat sendiri tayangan video yang memperlihatkan Fahmi Nuzula mengatakan dirinya seakan-akan terlibat dalam kasus penangkapan Gubernur Irwandi Yusuf beberapa waktu lalu. “Pernyataan Fahmi itu tidak benar,” tegas Nova
Plt Gubernur Nova malah menyatakan berduka atas apa yang menimpa  Irwandi Yusuf dan teman-teman lainnya saat ini. Tetapi kita harus menyikapinya dengan tenang dan bijaksana.
Menurutnya, lebih baik kita menahan diri dan mendoakan Pak Irwandi dan teman-teman kita tersebut tetap sehat, dapat melewati semua ini dengan baik, dan cepat selesai, pungkas Nova.
“Sekali lagi saya membatah secara resmi pernyataan Fahmi Nuzula itu, “kata Nova Iriansyah sebagaimana dikutip Juru Bicara Pemerintah Aceh yang sedang bersamanya di Jakarta.
Sebelumnya, Fahmi Nuzula, menyebutkan, pihaknya mengira adanya keterlibatan Wakil Gubernur Nova Iriansyah yang kini menjabat sebagai Plt Gubernur Aceh dalam kasus penangkapan Irwandi beberapa waktu lalu, katanya.
“Kami meyangka, kami mengira termasuk Nova Iriansyah bermain, saya akan bertemu Nova untuk memper tanggungjawabkan kata-katanya setahun yang lalu kepada saya ,” ungkap Fahmi tanpa menyebutkan kata-kata yang dimaksud itu.

Sunday, 8 July 2018

7/08/2018

Demokrat Sodorkan AHY Sebagai Cawapres, Ini Kata Prabowo

Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto menegaskan bahwa pencalonan Agus Harimurti Yudhoyono sebagai cawapres belum final. Menurut Prabowo, dirinya harus mendiskusikannya terlebih dahulu dengan PAN dan PKS.

"Saya sudah katakan selalu bahwa saya ini sudah menjalin suatu persahabatan disaat susah terutama, di kawan-kawan PKS dan PAN. Jadi saya sudah komit sama mereka tidak akan ada keputusan yang saya ambil tanpa keterlibatan mereka. Ini sudah ada suatu gentlemen aggrement. Jadi kadang perjanjian itu juga harus kita hormati," ucap Prabowo di kediamannya, Jakarta, Sabtu (7/7/2018).


Meski demikian, dia mengatakan tetap membuka peluang kepada semua pihak yang ingin mendampinginya dalam Pilpres 2019.

"Dan saya bertekad untuk membangun suatu koalisi yang besar dan inklusif. Yang mencerminkan semua komponen bangsa," ungkap Prabowo.

Dia menuturkan, masih berkomunikasi dengan semua pihak secara terbuka.
"Jadi proses berjalan. Saya kira, saya terbuka dan saya ingin berpikir positif. Karena kita harus bekerja untuk rakyat," pungkas Prabowo.

Usulan Demokrat

Partai Demokrat mewacanakan duet Prabowo-AHY di Pilpres 2019. Wacana duet Prabowo-AHY muncul usai Wakil Ketua Umum Partai Demokrat menemui Prabowo di rumahnya, Kamis 5 Juli 2018 malam.
Prabowo sendiri membuka peluang untuk duet dengan AHY. Namun, lanjut dia, wacana tersebut harus dibahas bersama 2 calon mitra koalisi Gerindra, yaitu PKS dan PAN.

"Saya sampaikan ke Pak Syarief Hasan kita tidak ada masalah kita welcome. Tapi saya ingin, karena saya sudah terlanjur bekerja sama erat dengan PKS dan PAN berarti kita harus perlu ada konsensus karena kita ingin suatu koalisi yang kuat ke depannya," tandas Prabowo. (liputan6.com)
7/08/2018

Prabowo: TGB Dukung Jokowi, Kita Punya Amien Rais

Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto, tak mempermasalahkan jika Tuan Guru Bajang (TGB) Zainul Majdi, mengalihkan dukungannya kepada Joko Widodo tau Jokowi.

Menurut dia, dalam demokrasi siapapun boleh menentukan pilihannya sendiri.

"Ya ini demokrasi. Siapapun boleh mendukung siapapun. Ya boleh dong, itu hak beliau," ucap Prabowo di Kediamannya, Jakarta, Sabtu 7 Juli 2018.

Prabowo yakin dukungan TGB kepada Jokowi tak akan mempengaruhi suara massa Islam. Menurutnya, masih banyak tokoh yang menjadi panutan, salah satunya Amien Rais.

"Kita ada Amien Rais, Sudrajat, ada ustad Sambo nih," pungkasnya.
Pada Pilpres 2014 lalu, TGB adalah ketua pemenangan Prabowo Subianto di NTB. Di sana, Prabowo menang telak atas Jokowi di Pilpres 2014. (liputan6.com)


7/08/2018

5 Kartel Narkotika Meksiko Paling Mengerikan

Secara keseluruhan, berkembangnya kartel asal Meksiko dipengaruhi oleh intensnya proses penyelundupan kokain dari Kolombia ke Amerika Serikat pada 1980-an. Aparat penegak hukum AS yang mencurahkan segala fokusnya untuk memberantas kartel Kolombia, melupakan dan membiarkan kartel narkotika di Negeri Aztec tumbuh-berkembang.

Pada 1980-an, berkembanglah dua kartel besar Meksiko, Guadalajara dan the Gulf. Seiring waktu, akibat konflik internal, tiga petinggi Guadalajara membentuk tiga kartel baru, Sinaloa, Juarez, dan Tijuana.
Konflik internal juga melanda the Gulf, dan sejumlah anggota kartel itu membentuk sub-kartel baru, yakni Los Zetas pada 1990-an.

Awalnya, Los Zetas alias the Z, hanya beranggotakan 34 orang. Namun, meski kuantitas yang kecil, kualitas ke-34 individu itu dinilai sangat mumpuni di kalangan kartel Meksiko. Karena semula, mereka merupakan 'tim pembunuh' untuk kartel the Gulf.

Pada 2003, anggota Los Zetas bertambah menjadi 300 orang. Dan pada 2010, kartel itu resmi memisahkan diri dari the Gulf.

Pemerintah AS menyebut the Z sebagai 'kartel Meksiko yang paling maju secara teknologi dan beroperasi dengan canggih serta berbahaya'. Mengapa?
Dari berbagai contoh, berikut 5 fakta Los Zetas, kartel narkotika asal Meksiko yang paling mengerikan, seperti yang Liputan6.com rangkum dari Listverse.com.

1. Beranggotakan Eks-Pasukan Khusus yang Dilatih AS

Militer suatu negara didesikan untuk menjadi pasukan pelindung tanah airnya dari agresi yang datang dari luar maupun ancaman keamanan di dalam negeri. Di beberapa negara, purnawirawan dan veteran pun dihormati sebagai salah satu pahlawan serta dijadikan contoh patriotisme bangsa.

Namun, ironis bagi Meksiko yang beberapa eks-serdadunya justru menjadi anggota kartel narkotika, salah satunya untuk Los Zetas.

Dari 34 orang embrio Los Zetas, sebagian besar di antaranya adalah eks-pasukan khusus serta mantan 'tim pembunuh' untuk kartel raksasa Meksiko yang telah bubar, the Gulf.

Mereka sempat dilatih oleh Grup Pasukan Khusus ke-7 Amerika Serikat pada 1990-an. Selama pelatihan, mereka menerima kursus membaca peta, komunikasi, dan taktik standar ala Pasukan Khusus, seperti mengoperasikan senjata ringan dan berat, senapan mesin, dan beberapa senjata otomatis lainnya.

Bekal latihan itu ditujukan untuk mempersiapkan sejumlah personel tentara Meksiko untuk operasi kontra-militan dan kontra-narkotika. Ironisnya, sejumlah purnawirawan tentara itu menjadi anggota kartel, yang semula adalah lawan bagi mereka.

2. Kartel Terbesar di Meksiko, Saat ini

Los Zetas adalah kartel narkoba terbesar di Meksiko dalam aspek skala operasi. Mereka beroperasi di 16 negara bagian atau separuh dari total 32 negara bagian di Negeri Aztec.

Pada akhir 2011, wilayah operasi Los Zetas telah berhasil mengalahkan kartel Sinaloa, menjadikan the Z sebagai grup gembong narkotika terbesar di Meksiko dalam konteks geografis.

Status Los Zetas sebagai kartel narkoba terbesar di Meksiko membawa implikasi tambahan. Diyakini, kini mereka menjadi penyalur narkotika nomor satu dari Meksiko ke Amerika Serikat.

3. Menyuap dan Menjadi Sponsor Politisi Meksiko

Adalah fakta bahwa kartel seperti Los Zetas dan lainnya mensponsori serta menyuap sejumlah politisi Meksiko. Dan fakta itu merupakan masalah yang besar.

Sejak 2011, ada banyak skandal kolusi antara politisi dan kartel narkotika yang terungkap ke publik. Jika politisi menjadi 'boneka' kartel narkotika, maka sangat kecil kemungkinan 'War on Drugs' di Meksiko dapat dimenangi oleh pihak pemerintah.

Parahnya lagi, politisi di Meksiko turut tertarik menjalin hubungan kolusi dengan kartel narkotika seperti Los Zetas. Sebut saja seperti Gubernur Tamaulipas, Tomas Yarrington dan mantan Gubernur Coahuila, Humberto Moreira.

Yarrington misalnya, diduga kuat menerima sogokan dari kartel Los Zetas agar mereka mampu beroperasi bebas di Tamaulipas tanpa mendapat gangguan dari aparat. Demikian menurut media Meksiko, SDP Noticias.

Jika gubernur negara bagian di Meksiko telah didakwa sebagai kolaborator Los Zetas, maka ada kemungkinan suatu hari nanti, organisasi kriminal tersebut dapat mengusung gubernur dari jajarannya.

4. Merekrut Antek dan Memanufaktur Narkotika dari Luar Negeri

Los Zetas dikabarkan merekrut anggota dari lembaga pemasyarakatan dan geng di Amerika Serikat. Mereka direkrut sebagai antek yang melakukan distribusi narkotika berskala kecil hingga menengah di lapangan.

Tak sekedar merekrut, Los Zetas juga berkolaborasi baik dengan geng AS sejak 2010, guna memuluskan pendistribusian di Negeri Paman Sam.

Sementara itu, kartel tersebut melakukan manufaktur narkoba alamiah dan sintetis di negara maju seperti Amerika Serikat. Pada 2015, penegak hukum AS menemukan ladang ganja di Webb County, Texas yang diduga milik Los Zetas senilai US$ 2 juta. Lapangan itu terkait dengan kartel Los Zetas.

Los Zetas juga diduga telah beroperasi di luar negeri, membeli bahan baku dari Argentina dan beroperasi di negara-negara Asia seperti Malaysia. 

5. Melakukan Kejahatan Terorganisir

Los Zetas melakukan aktivitas kejahatan terorganisir lain di samping narkotika, yakni dengan melakukan segala bentuk aksi kriminal yang mampu menyokong struktur keuangan dan pendanaan mereka.

Kartel itu juga terlibat dalam penculikan dan pemerasan. Pada Agustus 2017, kartel tersebut menculik 17 orang dan menyekapnya di sebuah rumah di Nuevo Laredo. Mereka yang diculik dijadikan objek tebusan untuk memperoleh uang dari keluarga korban.

Untuk memperburuk keadaan, geng tersebut juga menjadi penyelundup pekerja migran. Mereka diduga mengendalikan sebagian besar jaringan perdagangan gelap pekerja migran yang menyelinap ke AS.




7/08/2018

Kartel Narkoba Berondong LP Pekanbaru, Kaca Gedung Pecah


LP Pekanbaru menerima teror diduga dari jaringan narkoba. Lima tembak diarah ke Lapas tersebut.

"Tembakan pertama sekitar pukul 03.00 dini hari sebanyak satu kali. Tembakan kedua sekitar pukul 04.00 dini hari dengan empat kali tembakan ke arah ruangan pelayanan," kata Kapolsek Bukit Raya Kompol Pribadi kepada wartawan, Minggu (8/7/2018).

Pribadi menjelaskan, ketika tembakan pertama terjadi, petugas Lapas sempat keluar. Namun ketika dilihat, tidak ada hal-hal yang mencurigakan.


Setengah jam kemudian, tembakan beruntun sebanyak empat kali ke arah ruangan pelayanan. Kaca jendela ada yang pecah terkena tembakan.

"Tidak ada korban jiwa dalam insiden ini. Di lokasi kejadi kita menemukan selosong peluru, belum diketahui kaliber berapa selosongnya," kata Pribadi.

Kapolresta Pekanbaru, Kombes Susanto menduga kuat tembakan itu merupakan teror. Teror ini diduga kuat masih terkait dengan jaringan narkoba.

Karena sebelum teror tembakan itu, kata Susanto, pihak Lapas Pekanbaru mengamankan seorang warga yang akan membesuk kedapat bawa narkoba.

"Narkoba jenis sabu-sabu itu dimasukan dalam roti tawar yang dibawa pelaku inisial FAD. Ada dua bungkusan sabu dalam plastik bening yang diamankan. Pelaku kini dilakukan pemeriksaan di Polsek Bukit Raya," kata Susanto. (detik.com)